Diarsipkan di bawah: Renungan
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid
Untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun
Betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun
Betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Diarsipkan di bawah: Puisi
Lelaki datang atas nama CINTA
Terpesona kecantikan Cleopatra
Yang terbawa oleh angin gurun Sahara
Lelaki datang atas nama CINTA
Tergiur tahta Ratu Elizabeth II
Silau mata pantulan cahaya harta benda
Diarsipkan di bawah: Kajian
Emangnya kalo nggak temenan sama cowok, apaan dong? Jangan salah, di beberapa kalangan terutama pengusung ide feminisme, mereka menganggap bahwa cowok adalah rival atau saingan cewek dalam banyak hal. Cowok tuh makhluk paling nyebelin dan penjajah sedunia. Makanya, kaum feminis berusaha sok tegar hidup tanpa cowok karena mereka nggak mau dijajah sama makhluk berjenis cowok. Masa sih sampe segitunya?
Di pihak lain, ada sekelompok cewek yang ganjen bin lembeng (ini temennya ganjen loh) tergantung banget sama yang namanya cowok. Seakan-akan mereka ini nggak bakal bisa survive tanpa cowok. Cowok adalah makhluk perkasa yang akan memperlakukan mereka ibarat putri dari kahyangan. Cewek jenis ini merasa butuh dimanja dan disayang oleh cowok all the time.
Waduh, kayaknya kedua kutub di atas ekstrim banget ya. Trus, gimana sih seharusnya kamu sebagai kaum cewek kudu bersikap terhadap cowok?
Diarsipkan di bawah: Puisi
Bunda…
Jauh darimu terasa benar rasa rinduku akanmu
Teringat aku saat-saat ada di dekatmu
Kau curahkan segenap cintamu untuk kami, keluargamu
Dari pagi menjelang hingga malam menutup hari
Tanpa lelah kau layani kami, pengabdian yang tanpa batasBunda… (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Puisi
Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
Dia milikku tercipta buatku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan antara kami
Agar kemesraan itu abadi
Ya Allah…
Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Maka jodohkanlah kami (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Renungan
Jika kita sebagai calon penumpang sebuah bus, manakah di antara ketiga sopir berikut yang akan kita pilih ?
Sopir pertama selalu melihat spion kiri dan kanan serta kaca di tengah untuk memperhatikan situasi di belakang. Dia tidak sadar di depannya lampu lalu lintas sedang menyala merah, atau ada orang yang sedang menyeberang, atau ada ‘polisi tidur’, dan lain-lain.
Sopir kedua selalu melihat jauh ke depan, ke arah yang dituju. Dia tidak sadar ada mobil lain yang akan menyalipnya, lampu lalu lintas di depannya sedang menyala merah, atau ada orang yang sedang menyeberang, atau ada ‘polisi tidur’, dan lain-lain.
Sopir ketiga tahu persis tujuan yang ingin dicapai sehingga tahu arah ke depan yang harus ditempuh. Juga berdasarkan pengalamannya, dia sadar bahwa sesekali harus melihat spion kiri, kanan dan tengah untuk mengantisipasi kondisi di belakangnya. Dan yang terpenting, sopir ini memberikan perhatian sepenuhnya pada jalan di depan yang sedang dilalui. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Renungan
Pernahkah anda menatap wajah orang-orang yang anda sayang ketika mereka sedang tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang nampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun akan tampak polos dan jauh berbeda jika dia sedang tidur.
Orang yang paling kejam di dunia pun jika dia sudah tidur tak akan kelihatan wajah bengisnya. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Puisi
Sahabat!!!
Disaat jiwa ini dilekati oleh butir-butir pasir kedosaan
Dikala hati ini ditumpangi oleh penyakit-penyakit
Butuh kilauan mutiara hikmah, penerang jiwa
Perlu siraman air tausyiah, pengobat hati yang sakit.
Diarsipkan di bawah: Puisi
Aku datang sekarang
Memenuhi panggilan Mu
Yang berdengung dalam kalbu
Menyeruh masuk kerumah Mu (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Puisi
Kau menyentuh disaat aku butuh
Menggores rasa walau jauh
Aku tau!! Aku tak berhak mengharapkanmu
Untuk meredakan secuil rindu (lagi…)